Guru yang
profesional adalah mereka yang mengikuti perkembangan zaman.
Meningkatkan prestasi belajar siswa dengan berinovasi dalam
pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan media animasi. Apakah
animasi itu???
Media Pembelajaran
1.1. Pengertian Media Pembelajaran
Secara harfiah, media berarti perantara atau pengantar. Menurut
Nurhayati dan Sappe (2004), ada beberapa pengertian media yang
dikemukakan oleh para ahli antara lain sebagai berikut : 1) Assocation
for education and Communication Technology (AECT) mengartikan sebagai
segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi. 2)
National Educational Association (NEA) mengartikan sebagai segala bentuk
yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan
beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut. 3) Blake dan
Horalsem mengatakan media yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan
sesuatu pesan dimana media merupakan jalan atau alat yang mana suatu
pesan berjalan antara komunikator dengan komunikan. 4) Santoso dan
Harmidjojo menyatakan semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar
ide, sehingga gagasan itu sampai pada penerima.
Menurut Hidayat (2010), media diartikan
meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari
sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan
penyalur pesan, media belajar dalam hal hal tertentu, bisa mewakili guru
menyajikan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu
didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat
diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru. Pada hakekatnya
media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses
pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita bandingkan
dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum,
sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri.
Sedangkan media pembelajaran sifatnya lebih mengkhusus, maksudnya media
pendidikan yang secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar
tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Tidak semua media
pendidikan adalah media pembelajaran, tetapi setiap media pembelajaran
pasti termasuk media pendidikan. Alat peraga, alat bantu guru (teach¬ing
aids), alat bantu audio visual (AVA), atau alat bantu belajar yang
selama ini sering juga kita denga pada dasamya, semua istilah itu dapat
kita masukkan dalam konsep media, karena konsep media merupakan
perkembangan lebih lanjut dari konsep konsep tersebut.
1.2. Prinsip-prinsip Pemilihan Media Pembelajaran
Sebelum menggunakan media, guru harus memilih secara cermat. Memilih
media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang
mudah. Pemilihan itu rumit dan sulit, karena harus mempertimbangkan
berbagai faktor. Media pada hakekatnya merupakan salah satu komponen
sistem pembelajaran. Sebagai komponen, media hendaknya merupakan bagian
integral dan harus sesuai dengan proses pembelajaran secara menyeluruh.
Akhir dari pemilihan media adalah penggunaaan media tersebut dalam
kegiatan pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi
dengan media yang guru pilih.
Apabila guru telah menentukan alternatif media yang akan kita gunakan
dalam pembelajaran, maka pertanyaan berikutnya adalah sudah tersediakah
media tersebut di sekolah? Jika sudah tersedia, maka guru tinggal
meminjam atau membelinya saja. Itupun jika media yang ada memang sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang telah guru rencanakan, dan terjangkau
harganya. Jika media yang kita butuhkan temyata belum tersedia, mau tak
mau kita harus membuat sendiri program media sesuai keperluan tersebut.
Untuk itu, pemilihan jenis media harus dilakukan dengan prosedur yang
benar, karena begitu banyak jenis media dengan berbagai kelebihan dan
kelemahan masing masing.
Menurut hidayat (2010), secara umum
kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaran
diuraikan sebagai berikut :
- Tujuan. Apa tujuan pembelajaran (standar kompetensi dan kompetensi
dasar) yang ingin dicapai? Apakah tujuan itu masuk ranah kognitif,
afektif, psikomotor, atau kombinasinya? Jenis rangsangan indera apa yang
ditekankan: apakah penglihatan, pendengaran, atau kombinasinya? Jika
visual, apakah perlu gerakan atau cukup visual diam? Jawaban atas
pertanyaan itu akan mengarahkan kita pada jenis media tertentu, apakah
media realia, audio, visual diam, visual gerak, audio visual gerak dan
seterusnya.
- Sasaran didik. Siapakah sasaran didik yang akan menggunakan media?
bagaimana karakteristik mereka, berapa jumlahnya, bagaimana latar
belakang sosialnya, bagaimana motivasi dan minat belajarnya? dan
seterusnya. Apabila kita mengabaikan kriteria ini, maka media yang kita
pilih atau kita buat tentu tak akan banyak gunanya. Mengapa? Karena pada
akhirnya sasaran inilah yang akan mengambil manfaat dari media pilihan
kita itu. Oleh karena itu, media harus sesuai benar dengan kondisi
mereka.
- Karakteristik media yang bersangkutan. Bagaimana karakteristik media
tersebut? Apa kelebihan dan kelemahannya, sesuaikah media yang akan
kita pilih itu dengan tujuan yang akan dicapai? Kita tidak akan dapat
memilih media dengan baik jika kita tidak mengenal dengan baik
karakteristik masing masing media. Karena kegiatan memilih pada dasamya
adalah kegiatan membandingkan satu sama lain, mana yang lebih baik dan
lebih sesuai dibanding yang lain. Oleh karena itu, sebelum menentukan
jenis media tertentu, pahami dengan baik bagaimana karaktristik media
tersebut.
- Waktu. Yang dimaksud waktu di sini adalah berapa lama waktu yang
diperlukan untuk mengadakan atau membuat media yang akan kita pilih,
serta berapa lama waktu yang tersedia/yang kita memiliki, cukupkah?
Pertanyaan lain adalah, berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menyajikan media tersebut dan berapa lama alokasi waktu yang tersedia
dalam proses pembelajaran? Tak ada gunanya kita memilih media yang baik,
tetapi kita tidak cukup waktu untuk mengadakannya. Jangan sampai pula
terjadi, media yang telah kita buat dengan menyita banyak waktu, tetapi
pada saat digunakan dalam pembelajaran temyata kita kekurangan waktu.
- Biaya. Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam menyewa
media tersebut? Bisakah kita mengusahakan biaya tersebut/apakah besarnya
biaya seimbang dengan tujuan belajar yang hendak dicapai? Tidak
mungkinkah tujuan belajar itu tetap dapat dicapai tanpa memilih media.
Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Apalah artinya kita menggunakan
media, jika akibatnya justru pemborosan. Oleh sebab itu, faktor biaya
menjadi kriteria yang harus kita pertimbangkan. Berapa biaya yang kita
perlukan untuk membuat, membeli atau menggunakan media itu, adakah
alternatif media lain yang lebih murah namun tetap dapat mencapai tujuan
belajar? Media yang mahal belum tentu lebih efektif untuk mencapai
tujuan belajar dibandingkan media sederhana dan murah.
- Ketersediaan. Kemudahan dalam memperoleh media juga menjadi
pertimbangan kita. Adakah media yang kita butuhkan itu di sekitar kita,
di sekolah atau di pasaran? Kalau kita harus membuatnya sendiri, adakah
kemampuan, waktu tenaga dan sarana untuk membuatnya? Kalau semua itu
ada, pertanyaan berikutnya adalah tersediakah sarana yang diperlukan
untuk menyajikannya di kelas? Misalnya, untuk menjelaskan tentang proses
terjadinya gerhana matahari memang lebih efektif disajikan melalui
media video. Namun karena di sekolah tidak ada video player, maka sudah
cukup bila digunakan alat peraga gerhana matahari.
- Konteks Penggunaan. Konteks penggunaan maksudnya adalah dalam
kondisi dan strategi bagaimana media tersebut akan digunakan. Misalnya:
apakah untuk belajar individual, kelompok kecil, kelompok besar atau
masal? Dalam hal ini kita perlu merencanakan strategi pembelajaran
secara keseluruhan yang akan kita gunakan dalam proses pembelajaran,
sehingga tergambar kapan dan bagaimana konteks penggunaaan media
tersebut dalam pembelajaran.
- Mutu teknis. Kriteria ini terutama untuk memilih/membeli media siap
pakai yang telah ada, misalnya program audio, video, grafis atau media
cetak lain. Mutu teknis media tersebut, visual jelas, menarik, dan
cocok; suaranya jelas dan enak didengar, jangan sampai hanya karena
keinginan kita untuk menggunakan media saja, lantas media yang kurang
bermutu kita paksakan penggunaannya.
1.3. Media Audio Visual (Animasi)
Menurut Wikipedia (2009) dalam Anonim (2010), animasi atau lebih akrab
disebut dengan film animasi adalah film yang merupakan hasil dari
pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak, dengan
bantuan computer dan grafika computer, pembuatan film animasi menjadi
sangat mudah dan cepat. Flash adalah alat untuk membuat web site yang
interaktif dan web site yang dianimasikan. Animasi flash adalah gambar
bergerak yang dibuatdengan menggunakan alat untuk membuat web site yang
interaktif dan web yang dianimasikan.
Menurut Artawan (2010), ada tiga jenis
format animasi yaitu animasi tanpa sistem control misalnya untuk pause,
memperlambat kecepatan pergantian frame, zoom in, zoom out dan lain
sebagainya, animasi dengan sistem kontrol dan animasi manipulasi
langsung, dimana guru dapat berinteraksi langsung dengan kontrol
navigasi.
Media animasi termasuk jenis media visual
audio, karena terdapat gerakan gambar dan suara. Menurut Sudrajat
(2010), pembelajaran audio visual didefinisikan sebagai produksi dan
pemanfaatan bahan yang berkaitan dengan pembelajaran melalui penglihatan
dan pendengaran yang secara eksklusif tidak selalu harus bergantung
kepada pemahaman kata-kata dan symbol-simbol sejenis.
Menurut Furoidah (2009), media animasi pembelajaran merupakan media yang
berisi kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga
menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup
serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Media animasi pembelajaran
dapat dijadikan sebagai perangkat ajar yang siap kapan pun digunakan
untuk menyampaikan materi pelajaran.
1.4. Peranan Media Audio Visual (Animasi)
Menurut Hidayat (2010) Manfaat secara umum, media dalam proses
pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa
sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi
secara. lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci.
Menurut Kemp dan Dayton (1985) dalam Hidayat (2010) manfaat media dalam pembelajaran, yaitu:
- Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan. Setiap guru mungkin
mempunyai penafsiran yang berbeda beda terhadap suatu konsep materi
pelajaran tertentu. Dengan bantuan media, penafsiran yang beragam
tersebut dapat dihindari sehingga dapat disampaikan kepada siswa secara
seragam. Setiap siswa yang melihat atau mendengar uraian suatu materi
pelajaran melalui media yang sama, akan menerima informasi yang persis
sama seperti yang diterima oleh siswa-¬siswa lain. Dengan demikian,
media juga dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara
siswa di manapun berada.
- Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik. Berbagai
potensi yang dimilikinya, media dapat menampilkan informasi melalui
suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi.
Materi pelajaran yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas,
lengkap, serta menarik minat siswa. Dengan media, materi sajian bisa
membangkitkan rasa keingintahuan siswa dan merangsang siswa bereaksi
baik secara fisik maupun emosional. Singkatnya, media pembelajaran dapat
membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup,
tidak monoton, dan tidak membosankan.
- Proses belajar menjadi lebih interaktif. Jika dipilih dan dirancang
secara baik, media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi
dua arah secara aktif selama proses pembelajaran. Tanpa media, seorang
guru mungkin akan cenderung berbicara satu arah kepada siswa. Namun
dengan media, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru
sendiri yang aktif tetapi juga siswanya.
- Efesiensi dalam waktu dan tenaga. Keluhan yang selama ini sering
kita dengar dari guru adalah, selalu kekurangan waktu untuk mencapai
target kurikulum. Sering terjadi guru menghabiskan banyak waktu untuk
menjelaskan suatu materi pelajaran. Hal ini sebenarnya tidak harus
terjadi jika guru dapat memanfaatkan media secara maksimal. Misalnya,
tanpa media seorang guru tentu saja akan menghabiskan banyak waktu untuk
mejelaskan sistem peredaran darah manusia atau proses terjadinya
gerhana matahari. Padahal dengan bantuan media visual, topik ini dengan
cepat dan mudah dijelaskan kepada anak. Biarkanlah media menyajikan
materi pelajaran yang memang sulit untuk disajikan oleh guru secara
verbal. Dengan media, tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara
maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Dengan media, guru
tidak harus menjelaskan materi pelajaran secara berulang ulang, sebab
hanya dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah
memahami pelajaran.
- Meningkatkan kualitas hasil belajar. Penggunaan media bukan hanya
membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa
menyerap materi pelajaran lebih mendalam dan utuh. Bila hanya dengan
mendengarkan informasi verbal dari guru saja, siswa mungkin kurang
memahami pelajaran secara baik. Tetapi jika hal itu diperkaya dengan
kegiatan melihat, menyentuh, merasakan, atau mengalami sendiri melalui
media, maka pemahaman siswa pasti akan lebih baik.
- Media memungkinkan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja
dan kapan saja.Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa
sehingga siswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara lebih
leluasa, kapanpun dan dimanapun, tanpa tergantung pada keberadaan
seorang guru. Program program pembelajaran audio visual, termasuk
program pembelajaran menggunakan komputer, memungkinkan siswa dapat
melakukan kegiatan belajar secara mandiri, tanpa terikat oleh waktu dan
tempat. Penggunaan media akan menyadarkan siswa betapa banyak sumber
sumber belajar yang dapat mereka manfaatkan dalam belajar. Perlu kita
sadari bahwa alokasi waktu belajar di sekolah sangat terbatas, waktu
terbanyak justru dihabiskan siswa di luar lingkungan sekolah.
- Media dapat menumbuhkan sikap positip siswa terhadap materi dan
proses belajar. Dengan media, proses pembelajaran menjadi lebih menarik
sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar
mencari sendiri sumber sumber ilmu pengetahuan. Kemampuan siswa untuk
belajar dari berbagai sumber tersebut, akan bisa menanamkan sikap kepada
siswa untuk senantiasa berinisiatif mencari berbagai sumber belajar
yang diperlukan.
- Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif. Dengan
memanfaatkan media secara baik, seorang guru bukan lagi menjadi satu
satunya sumber belajar bagi siswa. Seorang guru tidak perlu menjelaskan
seluruh materi pelajaran, karena bisa berbagi peran dengan media. Dengan
demikian, guru akan lebih banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian
kepada aspek aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar
siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain.
Menurut Hidayat (2010), manfaat praktis media pembelajaran antara lain:
- Media dapat membuat materi pelajaran
yang abstrak menjadi lebih konkrit. Arus listrik misalnya dapat
dijelaskan melalui media grafis berupa simbol simbol dan bagan. Demikian
pula materi pelajaran yang rumit dapat disajikan secara lebih sederhana
dengan bantuan media. Misalnya materi yang membahas rangkaian peralatan
elektronik atau mesin dapat disederhanakan melalui bagan skema yang
sederhana.
- Media juga dapat mengatasi kendala
keterbatasan ruang dan waktu. Sesuatu yang terjadi di luar ruang kelas,
bahkan di luar angkasa dapat dihadirkan di dalam kelas melalui bantuan
media. Demikian pula beberapa peristiwa yang telah terjadi di masa
lampau, dapat kita sajikan di depan siswa sewaktu waktu. Dengan media
pula suatu peristiwa penting yang sedang terjadi di benua lain dapat
dihadirkan seketika di ruang kelas.
- Media dapat membantu mengatasi
keterbatasan indera manusia. Obyek pelajaran yang terlalu kecil, terlalu
besar atau terlalu jauh, dapat kita pelajari melalui bantuan media.
Demikian pula obyek berupa proses/kejadian yang sangat cepat atau sangat
lambat, dapat kita saksikan dengan jelas melalui me¬dia, dengan cara
memperlambat, atau mempercepat kejadian. Misalnya, proses perkembangan
janin dalam kandungan selama sembilan bulan, dapat dipercepat dan
disaksikan melalui media hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Sebaliknya, ketika anak belajar teknik menendang bola atau melakukan
smash permainan bulu tangkis yang sangat cepat, dapat dipelajari dengan
cara memperlambat gerakan tersebut melalui bantuan media (slow motion).
Media juga dapat menyajikan obyek pelajaran berupa benda atau peristiwa
langka dan berbahaya ke dalam kelas. Peristiwa terjadinya gerhana
matahari total yang jarang sekali terjadi, dapat disaksikan oleh siswa
setiap saat melalui media rekaman. Terjadinya gunung meletus yang
berbahaya dapat pula disaksikan siswa di kelas melalui media. Informasi
pelajaran yang disajikan dengan media yang tepat akan memberikan kesan
mendalam dan lebih lama tersimpan pada diri siswa.
Menurut Nurhayati dan sappe (2004), media
pembelajaran berfungsi sebagai 1) memperjelas dan memperkaya/melengkapi
informasi yang diberikan secara verbal. 2) meningkatkan motivasi,
efektivitas dan efesiensi penyampaian informasi. 3) menambah variasi
penyajian materi. 4) dapat menimbulkan semangat, gairah, dan mencegah
kebosanan siswa untuk belajar. 5) memudahkan materi untuk dicerna dan
lebih membekas, sehingga tidak mudah dilupakan siswa. 6) memberikan
pengalaman yang lebih konkret bagi hal yang mungkin abstrak. 7)
memberikan stimulus dan mendorong respon siswa.
Kelebihan media animasi adalah
penggabungan unsur media lain seperti audio, teks, video, image, grafik,
dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga mengakomodasi
sesuai dengan modalitas belajar siswa. Selain itu, dapat mengakomodasi
siswa yang memiliki tipe visual, auditif, mupun kinestetik. (Sudrajat,
2010).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seorang guru atau pelatih dalam
memilih dan menggunakan media audio-visual dalam menyampaikan informasi,
fikiran dan pesan kepada anak didiknya, menurut Sadiman (2003:23) dalam
Anonim (2009) antara lain: 1) Media audio-visual mempermudah orang
menyampaikan dan menerima materi, fikiran dan pesan serta dapat
menghindarkan salah pengertian, 2) Media audio-visual mendorong
keinginan seseorang untuk mengetahui lebih lanjut informasi yang sedang
dipelajarinya, 3) Media audio-visual dapat mengekalkan pengertian yang
didapat, 4) Media audio-visual sudah berkembang di masyarakat.
Menurut Artawan (2010), kelebihan media animasi dalam pembelajaran biologi diantaranya :
- Memudahkan guru untuk menyajikan
informasi mengenai proses yang cukup kompleks dalam kehidupan, misalnya
siklus nitrogen, respirasi aerob, sistem peredaran darah dan proses
lainnya.
- Memperkecil ukuran objek yang cukup besar dan sebaliknya seperti hewan dan mikroba.
- Memotivasi siswa untuk memperhatikan karena menghadirkan daya tarik bagi siswa terutama animasi yang dilengkapi dengan suara.
- Memiliki lebih dari satu media yang konvergen, misalnya menggabungkan unsur audio dan visual.
- Bersifat interaktif, dalam pengertian memiliki kemampuan untuk mengakomodasi respon pengguna.
- Bersifat mandiri, dalam pengertian
memberi kemudahan dan kelengkapan isi sedemikian rupa sehingga pengguna
bisa menggunakan tanpa bimbingan orang lain.
Menurut Artawan (2010), kelemahan dari media animasi diantaranya :
- Memerlukan kreatifitas dan ketrampilan yang cukup memadai untuk
mendesain animasi yang dapat secara efektif digunakan sebagai media
pembelajaran
- Memerlukan software khusus untuk membukanya
- Guru sebagai komunikator dan fasilitator harus memiliki kemampuan
memahami siswanya, bukan memanjakannya dengan berbagai animasi
pembelajaran yang cukup jelas tanpa adanya usaha belajar dari mereka
atau penyajian informasi yang terlalu banyak dalam satu frame cenderung
akan sulit dicerna siswa.
2. Strategi Pembelajaran Aktif (Active Learning Strategy)
Pengertian Strategi Pembelajaran Aktif
Strategi merupakan istilah lain dari pendekatan, metode atau cara. Di
dalam kepustakaan pendidikan istilah-istilah tersebut di atas sering
digunakan secara bergantian. Menurut Udin S. Winataputra & Tita
Rosita ( 1995: 124) dalam Hasim (2008), istilah strategi secara harfiah
adalah akal atau siasat. Sedangkan strategi pembelajaran diartikan
sebagai urutan langkah atau prosedur yang digunakan guru untuk membawa
siswa dalam suasana tertentu untuk mencapai tujuan belajarnya.
Sedangkan pembelajaran aktif menurut
Hisyam Zaini, Bermawy Munthe & Sekar Ayu Aryani (2007:xvi) dalam
Hasim (2008) adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk
belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengan aktif,
berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran.
Menurut Ramadhan (2008), pembelajaran aktif dimaksudkan bahwa dalam
proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Menurut Anonim (2010), pembelajaran aktif
berarti bahwa belajar merupakan proses aktif merangkai pengalaman untuk
memperoleh pemahaman baru. Siswa aktif terlibat di dalam proses belajar
mengkonstruksi sendiri pemahamannya. Teori belajar konstruktivisme
merupakan titik berangkat pembelajaran aktif. Atas dasar itu
pembelajaran ini secara sengaja dirancang agar mengaktifkan anak. Di
dalam implementasinya, seorang guru harus merancang dan melaksanakan
kegiatan-kegiatan atau strategi-strategi yang memotivasi siswa berperan
secara aktif di dalam proses pembelajaran. Menurut Dryden & Voss,
2000dalam Anonim (2010), mengapa pembelajaran harus mengaktifkan siswa?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kita belajar 10% dari yang kita baca,
20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita
lihat dan dengar, 70% dari yang kita ucapkan, dan 90% dari yang kita
ucapkan dan kerjakan serta 95% dari apa yang kita ajarkan kepada orang
lain. Artinya belajar paling efektif jika dilakukan secara aktif oleh
individu tersebut.
Aplikasi Strategi Pembelajaran Aktif
Menurut Hasim (2008), tips yang dapat digunakan guru untuk mengarah pada
strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam belajar:
- Selalu berpenampilan menarik dan penuh wibawa. Kesan pertama siswa
saat bertemu gurunya adalah fisik dari guru tersebut. dengan penampilan
yang menarik dan penuh wibawa akan membuat kesan yang positif dari
siswa, sehingga dengan mudah guru akan dapat membawa siswa kedalam
suasana belajar yang guru inginkan.
- Manfaatkan pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan antar
warga kelas. Tunjukkan cara-cara belajar biologi yang baik, buatlah
kesepakatan (kontrak) terkait norma-norma yang harus dipatuhi oleh warga
kelas.
- Buatlah formasi tata letak meja, kursi, pajangan dinding, dan
perabot kelas yang lain sesuai dengan kesepakatan warga kelas dan
kebutuhan.
- Siapkan semua peralatan yang akan digunakan di dalam ruang kelas sebelum memulai pembelajaran.
- Mulailah proses belajar mengajar dengan materi yang ringan tetapi
menantang yang dapat merangsang siswa turut aktif berfikir. Kemudian
masuk pada materi yang akan kita ajarkan dengan senantiasa melibatkan
siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa mengajukan
pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa lebih
mudah memahami materi yang kita berikan.
- Selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan
salam yang menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.
- Gunakan bahasa yang santun, hormat, dan dengan nada bicara yang lembut.
- Memahami dan menghormati berbagai perbedaan yang ada
- Menghormati kerahasiaan setiap siswa
- Tidak merendahkan dan mencemooh siswa
- Memberi kesempatan yang sama kepada semua siswa untuk bicara dan jangan mengintrupsi pembicaraan siswa
- Bila seorang siswa mengemukakan pendapat, jadilah pendengar yang
baik dan selanjutnya berikan kesempatan kepada siswa lain untuk
memahaminya dan memberikan komentarnya.
- Memahami dan menghormati pendapat setiap siswa, bila perlu
melancarkan kritik: gunakan bahasa yang mengayomi, dan bila kritik
bersifat pribadi seyogyanya dilakukan di ruang khusus.
- Sekali waktu, berilah kesempatan kepada siswa untuk memberikan saran atau kritik guna perbaikan proses pembelajaran.
- Sediakan waktu untuk berkomunikasi dengan siswa di luar kelas.
Menurut Anonim (2010), Jenis dan langkah strategi pembelajaran aktif yaitu
1. Question students have
Langkah
• Bagikan kartu kosong kepada setiap siswa
• Mintalah setiap siswa menulis satu pertanyaan yang mereka miliki
tentang mata pelajaran atau sifat pelajaran yang sedang dipelajarai
(jangan mencantumkan nama peserta didik)
• Putarlah kartu tersebut searah jarum jam
• Ketiaka setiap kartu diedarkan pada peserta berikutnya, dia (pria atau
wanita) harus membaca dan memberinya tanda ceklis pada kartu itu
apabila kartu berisi pertanyaan mengenai pembaca
• Saat kartu kembali kepada penulisnya, setiap peserta akan memeriksa
seluruh pertanyaan kelompok tersebut, poin ini mengindentifikasi
pertanyaan yang memperoleh suara terbanyak
• Panggil beberapa peserta berbagai pertanyaan secara sukarela, sekalipun mereka tidak memperoleh suara terbanyak
• Kumpulkan semua kartu
(fungsi strategi ini: penilaian secara cepat)
3. Kaitan Penggunaan Media Animasi, Strategi Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,khususnya teknologi informasi
sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi
pembelajaran. Melalui kemajuan tersbut para guru dapat menggunakan
berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan
menggunakan media komunikasi bukan saja dapat mempermudah dan
mengefektifkan proses pembelajaran,akan tetapi juga bias membuat proses
pembelajaran lebih menarik. Proses pembelajaran merupakan proses
komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga
komponen pokok, yaitu komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa
materi pelajaran. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi
kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau pesan yang
disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya
tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa,
lebih parah lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan
yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun
strategi pembelajaran (Sanjaya, 2007).
Strategi pembelajaran yang baik adalah
yang mengandung kegiatan-kegiatan yang dapat membangkitkan motivasi
siswa. Menurut Sutikno (2007), belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai
keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan
tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat
diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi belajar tidak
akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Dan cara yang terbaik untuk
membangkitkan motivasi siswa adalah dengan penggunaan media.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa,
yakni melalui pengamatan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan
melalui pemberian penilaian atau evaluasi. Menurut Hamalik (2001),
penilaian atau evaluasi adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa
banyak hal yang telah dimiliki oleh siswa dari hal-hal yang telah
diajarkan. Evaluasi memiliki beberapa tujuan antara lain :
- Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar.
- Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membinan
kegiatan-kegiatan belajar lebih lanjut, baik keseluruhan maupun individu
- Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dan menyarankan kegiatan-kegiatan remedial
- Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuan sendiri
dan merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan.
4. Hasil Belajar Siswa
Menurut Sudjana (1989) dalam Sadiati (2006), apabila dicapai kualitas
pembelajaran yang baik maka akan dicapai pula hasil belajar yang baik.
Pengertian hasil belajar dalam hal ini adalah kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia melaksanakan pengalaman belajarnya. Menurut
Bloom dalam Sudjana dalam Sadiati (2006) membagi tiga ranah hasil
belajar yaitu:
- Ranah kognitif. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang
terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
- Ranah Afektif. Berkenaan dengan sikap yang terdiri dai lima aspek
yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi penilaian, organisasi dan
internalisasi.
- Ranah Psikomotorik. Berkenaan dengan hasil belajar ketrampilan dan
kemauan bertindak, ada enam aspek yaitu gerakan refleks, ketrampilan
gerakan dasar, ketrampilan membedakan secara visual, ketrampilan
dibidang fisik, ketrampilan komplek dan komunikasi.
Ketiga ranah tersebut menjadi objek
penilaian hasil belajar. Hasil kognitif diukur pada awal dan akhir
pembelajaran, sedangkan untuk hasil belajar afektif dan psikomotorik
diukur pada proses pembelajaran untuk mengetahui sikap dan ketrampilan
siswa. Untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal, seorang guru
harus dapat memilih model pembelajaran yang efektif dan efisien, serta
metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa agar situasi
kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, dengan suasana
yang tidak membosankan siswa. Salah satu model pembelajaran yang
diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran, adalah penggunaan
media animasi .
Menurut Artawan (2010), media animasi
dalam proses pembelajaran biologi ternyata dapat meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa karena memiliki kemampuan untuk memaparkan
sesuatu yang rumit atau komplek melalui stimulus audio visual yang
akhirnya membuahkan hasil lebih baik untuk tugas-tugas seperti
mengingat, mengenali, mengingat kembali dan menghubung-hubungkan fakta
dan konsep. Pembelajaran dengan memanfaatkan media animasi dapat
menciptakan pembelajaran biologi menjadi efektif, menyenangkan, tidak
membosankan sehingga mempercepat proses penyampaian materi kepada siswa.
Menurut Furoidah (2009), penggunaan media animasi pembelajaran memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa, serta menunjukkan
bahwa hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan media animasi
lebih tinggi daripada siswa yang dibeljarkan tanpa menggunakan media
animasi.